Ternyata Allah Lebih Dekat Dari Pada Urat Leher Kita Sendiri

Jika Allah Maha Dekat, maka seberapa dekatkah Allah dengan makhluk-NYA? Suatu pertanyaan aneh yang mungkin saja akan muncul didalam benak kita entah kapan. Saya khawatir ada diantara kita yang berpikir bahwa Allah Yang Maha Besar meliputi makhluk-NYA tetapi tidak menyatu. Artinya kita membayangkan seperti sebuah bola yang amat besar dan berongga dimana didalamnya seluruh makhluknya berada. Jika demikian pemikiran kita, maka berarti Allah itu berjarak dengan kita. Allah berada diluar meskipun kita berada didalam Allah. Pemahaman tersebut kurang tepat kalau kita sudah menyimpulkan bahwa Allah meliputi segala makhluk-NYA, maka tidak ada peluang lain untuk tidak mengatakan bahwa Allah bersatu dengan makhluknya. Ketuhilah kawan, Allah sangat dekat dengan kita dan bahkan lebih dekat dari pada urat leher kita sendiri.


Bayangkan, Allah meliputi atom-atom dan seluruh partikel yang lebih kecil dari itu. Allah juga meliputi molekul-molekul penyusun sel dan dalam tubuh kita. Artinya, dibagian yang terhalus dari tubuh kita pun Allah berada disana. Bahkan Allah juga berada dijarak satu partikel dengan partikel lainnya. Maka sekali lagi saya katakan, tidak ada peluang untuk mengatakan bahwa Allah tidak hadir dalam setiap sekecil apapun ditubuh kita maupun alam selesta ini. Karenanya sangatlah bisa kita pahami ketika Allah mengatakan bahwa Dia sangat dekat dengan makluk-NYA. Bahkan terhadap manusia, Allah mengatakan bahwa Dia lebih dekat dari pada urat leher kita sendiri, seperti firman Allah berikut:

“Dan sungguh Kami telah menciptakan manusia dan Kami mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya. Dan kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya”. (QS. Qaff (50): 16)

Bisakah anda bayangkan bahwa urat leher kita berada dalam tubuh kita dan menyatu dengan kita. Tetapi Allah mengatakan mengatakan bahwa Dia lebih dekat dari pada urat leher kita. Saya kira kesimpulannya hanya satu yakni bahwa Allah menyatu dengan kita atau sebaliknya, kita ini yang menyatu dengan Allah. Jika diperluas pemahaman tersebut, kita bisa mengatakan bahwa Allah berada dihati kita. Allah juga berada ditarikan dan hembusan nafas kita. Allah berada dialiran darah dan denyut jantung kita. Allah juga berada diseluruh kelenjar hormone kita. Allah berada dibenak pikiran kita, otak dan seluruh saraf tubuh kita. Allah berada dimilyaran proses biokimiawi yang menopang kehidupan kita. Allah-lah yang berperan dalam menghidupkan seluruh aktifitas kehidupan  kita, yang kita sadari maupun tidak dan yang bisa kendalikan maupun tidak. Allah adalah penguasa kehidupan kita sepenuhnya dan mutlak.

Pemahaman seperti diatas akan membawa konsekuensi yang sangat radikal dalam ketauhidan kita. Lantas kita memperoleh kesimpulan bahwa ternyata Allah tidak berjarak sama sekali dengan makhluk-NYA. Karenanya kita sangat bisa memahami kenapa Allah mengatakan bahwa Dia tau persis apa yang dibisikkan oleh hati dan pikiran kita. Karena Allah memang berada dihati dan pikiran kita sendiri. Lalu kita juga bisa mengerti kenapa Allah mengatakan bahwa kita dalam berdoa tidaklah perlu dengan suara yang keras, karena Allah memang menyatu dalam setiap tarikan nafas dan getaran suara kita. Cukuplah berdoa dengan cara suara berbisik-bisik kepada Allah karena Allah Maha Pendengar dan lebih dekat dari pada urat leher kita.
Kemudia kita juga akan berpikiran kenapa kita harus menengadah kelangit ketika kita berdoa. Sementara kita tau bahwa Allah begitu dekatnya bersama kita disini. Juga menjadi aneh ketika kita membayangkan dalam shalat kita bahwa Allah berada didepan kita. Sungguh dalam waktu yang bersamaan, Allah sedang berada didepan, dibelakang, diKanan, diKiri, di atas, dibawah, dan didalam diri kita. Atau yang lebih tepat lagi. “Kita sebenarnya sedang berada didalam-NYA dan bersatu dengan Allah.”

Reactions:

5 comments:

  1. Allah swt ada pada hati orang beriman. Orang beriman adalah orang yang mengenal sifat2 Allah swt.
    Salam blogger kawan... tukaran Link yuk...!!

    BalasHapus
  2. Thanks sob atas kunjungannya. sering2 mampir yah!hehehe

    BalasHapus
  3. mAmpir balik berbalas follow and tukaran Link. Monggo dicheck di My partner Blog. Thanks dah mampir balik...!!!

    BalasHapus
  4. bukan masalah kita dekat atau tidak. yang jadi masalah adalah, apa kita memahaminya?
    jika memang tidak berjarak, kenapa kita takut padanya? ketakutan kita membawa kita pada 'penyembahan' yang tak berhati, bisa di ibaratkan, ibadah kita sama halnya seperti ibadahnya kuli atau buruh yang takut pada majikannya; atau seprti ibadahnya pedagang yang mencari untung rugi; bukan seperti ibadahnya orang yang mencintainya, ibadah yang tidak membutuhkan pembuktian. begitulah, jika kita memang tidak berjarak, sudah seharusnya kita mencitainya...

    postingan yang mantep, Bro. thks :D

    BalasHapus
  5. Oke mas, terima kasih udah berkunjung

    BalasHapus